Tiga Pegawai SPBU Diancam dan Dianiaya Oknum Aparat

RTP tinggi vs rendah

Tiga orang pegawai SPBU menjadi korban penganiayaan fisik oleh oknum aparat. Korban terdiri dari Ahmad Khoirul Anam (staf, 5 tahun bekerja), Lukmanul Hakim (operator, baru lulus SMK), dan Abud Mahmudin (operator, 4 tahun bekerja).

Kronologi dan Bentuk Kekerasan

Insiden kekerasan tersebut terjadi dengan cara yang berbeda pada setiap korban. Ahmad Khoirul Anam mendapat tamparan di pipi. Lukmanul Hakim menerima pukulan di rahang sebelah kanan. Sementara itu, Abud Mahmudin mengalami pukulan di area bawah mata dan pipi dekat mulut, yang mengakibatkan giginya copot.

Laporan Hukum dan Respons Pemilik

Pemilik SPBU 3413901, Ernesta, segera mengambil langkah hukum dengan melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Pulogadung. Tim Profesi dan Pengamanan (Propam) juga telah mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan pemeriksaan.

“Kami sudah laporkan ke Polsek Pulo Gadung, dan pegawai saya yang luka-luka juga sudah menjalani visum,” jelas Ernesta. Ia mengaku mengalami trauma dan kekhawatiran berlebih, karena pelaku berpotensi kembali. Kekhawatiran ini diperparah dengan pengakuan pelaku yang menyebut memiliki jabatan tinggi, sehingga menimbulkan rasa intimidasi.

Trauma dan Kondisi Korban

Rasa takut masih menghantui para korban. Lukman mengungkapkan ketakutannya akan balas dendam pelaku. “Takutnya dia datang lagi nyari saya. Dia sempat memanggil-manggil nama saya. Kita hanya orang biasa. Takutnya dia balik lagi dengan dukungan. Jadi, masih khawatir,” ucapnya.

Pasca insiden, ketiga korban memilih beristirahat di rumah masing-masing. Meski tidak dirawat inap di rumah sakit, kondisi psikologis mereka terguncang. Ahmad Khoirul Anam dan Abud Mahmudin mengalami shock.

Korban Gigi Patah Ceritakan Detil Kejadian

Abud Mahmudin menceritakan detil luka yang dideritanya. Pukulan keras di bagian pipi tidak hanya menyebabkan memar, tetapi juga kerusakan permanen pada giginya.

“Gigi saya patah jadi setengah, tidak rata. Berdarah karena sarafnya kena saat saya dihajar di bagian pipi,” kisah Abud. Ia mengaku tidak mengetahui pemicu awal keributan tersebut. Saat kejadian, ia hanya ingin melihat situasi karena mendengar kegaduhan di area depan SPBU tempatnya bekerja.

“Saya tidak tahu awalnya bagaimana. Niatnya cuma mau tahu saja, karena ada kerusuhan. Namanya juga di lingkungan kerja,” pungkas Abud.